Jumat, 22 Oktober 2010

Review Buku : Studi Islam interdisipliner

Oleh : Itmamudin, SS

Judul Buku : Studi Islam interdisipliner 
Karya : DR. Lukman S. Thahrir MA.
Matakuliah : Studi Islam
Dosen Pengampu : Waryono Abdul Ghafur

A. Pendahuluan
Buku studi islam interdisipliner : Aplikasi pendekatan filsafat, sosiologi dan sejarah ini merupakan pengembangan dan penjabaran dari tiga topik pendekatan dalam studi islam yaitu pendekatan filsafat, sosiologi dan sejarah, yang penekanannya lebih diarahkan pada aspek aplikasi.
Pada bagian pertama menguraikan bagaimana aplikasi pendekatan filsafat dalam studi islam, seperti tafsir, hadits dan pemikiran islam.
Kemudian bagian kedua, menguraikan mengenai aplikasi pendekatan sosiologi yang meliputi teologi, hadits, tafsir, peran Institusi Sosial IAIN dan dakwah islam.
Bagian ketiga menguraikan aplikasi studi islam dalam pendekatan sejarah dengan sasaran penelitian melihat respon umat islam atas kolonialisme dan imperialisme, yang memaknai sejarah gagasan tokoh intelektual islam, seperti gagasan Ibnu Taimiyah, Sayid Idrus Bin Salim Al Jufrie, Muhammad Arkoun dan Nurcholis Madjid serta mengkiritisi model pendekatan sejarah yang digunakan Montgomery Watt dalam memahami pribadi Nabi Muhammad.
Buku ini merupakan buah dari perdebatan yang cukup panjang antara kelompok yang pro dan kontra terhadap proses pengkajian studi islam dengan pendekatan interdisipliner. Alasan kelompok yang pro dengan pendekatan ini adalah karena hasilnya dapat membantu memahami islam secara komprehensif, namun sebaliknya bagi kelompok yang kontra berpendapat bahwa kajian ini dapat merusak moral dan akidah mahasiswa, dan memungkinkan studi-studi islam konvensional akan hilang. Terlepas dari pro dan kontra buku ini, penulis tetap berharap buku ini dapat bermanfaat untuk membuka kemungkinan baru bagi aplikasi metodologi dari disiplin keilmuan lain terutama pendekatan humanities dan social science.


B. Pembahasan
1. Studi Islam Pendekatan Filsafat
a. Memahami matan hadis lewat pendekatan hermeneutik
Hermeneutik memiliki tiga pengertian, pertama diartikan sebagai peralihan dari sesuatu yang relatif abstak (misalnya dari ide pemikiran ) ke dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang kongkrit (misalnya dengan bentuk bahasa), kedua terdapat usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak diketahui ke dalam bahasa lain yang bisa dimengerti oleh si pembaca, dan ketiga, seseorang sedang memindahkan sesuatu ungkapan pikiran yang kurang jelas diubah menjadi bentuk yang lebih jelas.
Dari ketiga pengertian ini, ada hal yang dapat digaris bawahi bahwa hermeneutik dijadikan cara pendekatan memahami isi matan sebuah hadis kepada masyarakat yang hidup dalam tempat dan kurun waktu yang jauh berbeda dari pengarangnya (Nabi Muhammad) untuk dipahami dan direkonstruksi dalam rangka menafsirkan realitas sosial kekinian.
Menurut Gadamer, tujuan terpenting dari hermeneutik adalah memperluas cakrawala melalui ziarah imajinatif pada tradisi masa lampau dan berdialog dengan para jenius lewat karya tulisanya sehingga muncul “the fusion of new horison” atas dasar pemahaman ini, sebuah teks keagamaan menjadi bermakna apabila diposisisikan secara rasional dengan masyarakat pembacanya. Sebuah hadis tidak berdiri sendiri tetapi memiliki kaitan dengan tradisi dan komunitas beragama yang meresponnya.
Jika sebuah hadis dilepaskan dari umatnya maka tidak akan lagi bermakna. Untuk menghindari hal tersebut hadis perlu direkonstruksi dan tetap terbuka serta tidak terbatas pada penggal waktu tertentu sebagaimana yang dimaksud author (nabi Muhammad). Matan hadis harus mereflesikan gerak pergumulan dialektik kekinian dan kedisinian, sesuai dengan semangat peradaban yang hidup di sekeliling reader
Contoh pemaknaan dan penafsiran matan hadis dengan pendekatan hermeneutik
1) hadis tentang amalan utama
2) hadis tentang larangan wanita pergi sendirian
3) hadis tentang larangan melukis
Dari pemaknaan ketiga hadis tersebut penulis ingin menyampaikan bahwa perangkat metodologis yang ditawarkan dalam memahami masa lampau dan kemudian merekonstruksi makna sebuah matan hadis dalam wacana kekinian dan kedisinian adalah menggunakan pendekatan hermeneutik, maksudnya bahwa hadis bagaikan cermin yang memantulkan berbagai wajah sesuai dengan orang yang bercerminatau berdialog denganya. Artinya sebuah matan hadis tidak mesti dipahami secara monolitik, “seragam” dan “Given” dari varian mazhab yang ada. Karena penafsiran dan pemaknaan yang muncul dari sebuah hadis sangat di perngaruhi oleh alam pikiran, budaya dan bahasa pihak pembacanya. Oleh karena itu pemahaman dan penafsiran hadis yang bersifat multidimensi, pluralistik dan memiliki fusion of horison bagi pembaca yang hidup dalam zaman yang berbeda melahirkan penafsiran yang berbeda pula


b. Telaah sintetis tematis tafsir klasik dan modern
Pada bagian ini penulis akan memaparkan perbedaan persepsi mengenai perbedaan para ulama tafsir klasik dan modern dalam memahami cuplikan kisah pembangkangan iblis (tidak mau menyembah adam), yang melahirkan berbagai kontroversi pendapat di kalangan mereka.
Namun penulis memberikan pembatasan kajian pada surah albaqarah : 34 dan Hijr 33-40 yang difokuskan pada tafsir klasik att Tabari (Jami albayan fi al ta’wilil al quran) dan arrazi (tafsir mafatih al quran), serta tafsir modern karya Sayyid Qutub (fi Zilalil Qur’an) dan At Taba-Tabai (Tafsir al Mizan).
Alasan memilih surah al baqarah dan al hijri karena surah yang pertama, bukan saja karena ia menjelaskan pertama-tama menjelaskan terjadinya proses dramatisasi pembangkangan atau “keterpidanaan” Iblis, tetapi juga ia bisa digunakan untuk lebih memahami siapakah sebenarnya sosok iblis menurut perspektif masing-masing penafsir, sedang surah yang kedua (surah Al Hijr) dimakudkan untuk mengetahui atas dasar apa iblis melakukan pembangkangan dan aktivitas-aktivitas apa yang akan dikerjakannya pasca “terpidana”
Tokoh tafsir klasik dan modern memaknai dramatisasi pembangkangan iblis ini perbincangan yang mengarah pada pemaknaan yang bersifat teologis dan bias teologis, yaitu bahwa yang membuat iblis menjadi sesat bukanlah dirinya sendiri melainkan Allah, artinya bahwa Tuhan berkehendak terhadap segala sesuatu. Iblis dan bahkan manusia sekalipun tidak memiliki daya dan kekuatan untuk menentukan sesuatu, dengan demikian tertolaklah pendapat yang mangatakn bahwa manusia memiliki kebebasan dan kehendak untuk berbuat seperti yang diyakini aliran qadariyah dan muktazilah. Di satu sisi at tabai dan Qutub tidak terjebak dalam penafsiran yang berbau jabariyah, qadariyah, as syariyah dan muktazilah tertapi terjebak dalam ideom-ideom yang sama yaitu keinginan untuk berpolitis-ideologis.
Dari keempat penafsir tersebut diatas, penulis menyimpulkan terdapat besarnya muatan ideologis dalam menafsirkan ayat-ayat al-quran. Penafsiran semacam ini memperlihatkan kecenderungan mereka untuk membela teologi dan sikap yang mereka yakini. Sehingga konsekuensinya mereka tidak hanya terjebak dalam sikap sektarianisme dan ekslusivisme keagamaan, tetapi juga telah mereduksi makna alquran yang bernuansa inklusif, demokratis dan selalu terbuka terhadap penafsiran baru.
Fazlur rahman menyadari akan keterjebakan para mufasirin ini dalam menafsirkan alquran, sehingga kemudian beliau berupaya memaknai kembali alquran dengan semangat alquran itu sendiri yang inklusif, demokratis dan selalu terbuka untuk ditafsirkan. Dalam pandanganya, dalam , Major themes of the quran, tidak lagi mendeskripsikan iblis dan setan seperti yang dipahami oleh mufasir terdahulu, melainkan menafsirkan bahwa kisah iblis dan setan dalam alquran merupakan personifikasi dari prinsip kejahatan. Kisah ini hanya dipahami sebagai sebuah narasi pesan moral kemanusiaan yang setiap saat dan dalam bentuk-bentuk yang berbeda-beda selalu mengancam manusia dan bahkan memperkuat munculnya tindakan “iblis-iblis modern”, karena itu hanya integritas morallah yang dapat membendung segala bentuk dan prinsip kejahatan yang merupakan personifikasi Iblis. Setiap bentuk kejahatan yang dilakukan oleh manusia baik berupa pembunuhan, pemerkosaan, pemborosan, korupsi, perang maupun penyelewengan moral lainya seperti yang terjadi sekarang ini merupakan personifikasi dari iblis-iblis modern.


c. Pendekatan memahami “ketegangan” religiusitas
Untuk memahami ketegangan dalam keagamaan, penulis menggunakan metode fenomenologi Husserl, yang bertujuan mengkompromikann antara realitas dan pikiran tentang realitas, antar universalitas dan partikularitas, antara subjektifitas dan obyektifitas.
Problem dualitas filsafat ini, dalam diskursus keagamaan, mirip problem ‘agama” (religion) dengan “keberagaman (religiusitas).
Dalam terminologi agama, yang pertama mengungkapkan agama dengan sebutan Proper Noun, bersifat partikular, seperti islam, kristen, protestan, hindu, budha.
Yang kedua, mengungkapkan keragaman penghayatan keagamaan dengan sebutan abstract noun bersifat universal. Adanya truth claim atau klaim kebenaran yang sering kita dengar dalam fenomena keberagaman umat, bisa jadi karena kuatnya dominasi penghayatan agama sebagai proper moun dan kurang dipahaminya wilayah abstract noun yang menjadi landasan ontologis bagi keberadaan masing-masing agama. Sikap teologis ini tidak hanya menyangkut aspek external agama saja, melainkan internal agamampun sering terjadi konflik dan klaim kebenaran masing-masing. Seperti halnya konflik internal dalam islam, NU dan Muhammadiyah.
Disinilah pentingnya pendekatan fenomenologi Husserl, yang berupaya mencari obyektifitas suatu realitas melalui metode reduksi. Dengan metode ini, kita dapat terhindar dari sikap subjektifitas keagamaan atau bias teologis, “karena agama dibiarkan berbicara tentang dirinya sendiri” disini fenomena keberagamaan manusia dipahami secara apa adanya tanpa memasukkan kategorikeyakinan dogmatis maupun teologis kita.
Metode ini jika diterapkan dalam wilayah keagamaan, agaknya terlalu menekankan hal-hal yang abstrak sehingga kurang mempunyai kerangka etis-pragmatis seperti teologi, karena itu dalam wacana studi-studi keislaman pendekatan ini harus dikompromikan. Hubungan antara keduanya dapat diumpamakan seperti hubungan antara keduanya dapat diumpamakan seperti hubungan antara pure science (fenomenologi) dan applied science (teologi). Dengan demikian keduanya dapat salaing mengisi dan memperkuat.


d. Kearah pembentukan teori pembebasan dalam islam
(Etika diskursus jurgen habermas)
Dalam kaitanya dengan teori etika ini, dapat ditarik relevansinya dengan kehidupan humanitis islam kontemporer, bahwa diskursus tentang etika habermas ini menciptakan kesadaran kritis bagi umat islam untuk menyingkap segala sesutau yang menutupi kenyataan yang tak manusia terhadap kesadaran mereka. terutama kritis terhadap segala lembaga normatif yang mengungkung kebebasan mereka dalam hal ini dianggap sebagai sesuatu yang bersifat objektif.
Jika dikaitkan dengan lembaga islam perlu dikritisi perlu dikritisi menyangkut legitimasi lembaga itu dalam memberbankan norma-norma moral pada seseorang. Misalnya NU dan Muhammadiyah yang mengajarkan doktrin dan norma moral ke NU-an dan ke-muhammadiyah-anya. Dalam etika diskursus prosess pengajaran seperti ini termasuk penindasan, dan karena itu harus dibebaskan melalui pembahsan secara bersama dan terbuka tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Hal ini sangat penting untuk menguak segala macam ‘ideologi” yang ada dibalik teori atau pandangan dunia yang memberi makna pada segi-segi hidup tertentu yang sebenarnya berfungsi sebagai pembenaran atas kepentingan-kepentingan kekuasaan tertentu.


2. Studi Islam Pendekatan Sosiologi
a. Diskursus teologi sosial dalam islam (kritik atas doktrin metafisika-spekulatif)
Kesadaran manusia terhadap signifikansi nilai-nilai ketuhanan dalam relatias kehidupan sosial kemanusiaan merupakan persoalan yang sangat mendasar. Pergulatan manusia dengan dinamikan dan perubahan realtias sosial melahirkan kerinduan manusia pada ‘format nilai-nilai ketuhanan” yang relevan untuk pemecahan persoalan aktual yang dihadapinya. Namun persoalanya bahwa bagaimana nilai-nilai ketuhanan dapat relevan dan mampu diwujudkan dalam realitas kemanusiaan, sehingga nilai-nilai itu tidak hanya berbasis berpikir, bertindak dan berperilaku semata, namun juga mampu memberikan dampak nyata terhadap pemeluknya. Melihat hal ini penulis ingin menyampaikan pengenalan sebuah langkah untuk merelevankan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan nyata. Dengan melihat secara sepintas pengaruh doktrin metafisika-spekulatif Yunani terhadap diskursus teologi islam. Kemudian menggunakan pendekatan fungsional sosiologis, doktrin metafisika spekulatif dari teologi islam, kemudian dikritisi dan digeser peran dan cara kerjanya.
Ilmu teologi merupakan ilmu yang membahas mengenai ajaran dasar suatu agama. Dalam islam teologi disebut juga dengan ilmu kalam, atau ilmu tauhid yaitu ilmu yang membahas masalah ketuhanan sebagai fondasi dari agama dan keyakinan berdasarkan argumentasi rasional.
Dalam kaitanya dengan masalah teologi yang disampaikan oleh penulis, mengkritisi pendapat dari aliran muktazilah yang terpengaruh oleh filsafat yunani, aliran muktazilah berpendapat bahwa sifat tuhan bukanlah sifat yang mempunyai wujud tersendiri diluar zat tuhan. Kemudian disempurnakan dengan “gambaran-gambaran yang diberikan Allah mengenai hari kiamat hanya alegori semata dan bahwa sifat allah hanya kekal dalam kaitanya dengan dunia. Kemudian mereka juga membedakan kata penciptaan yang absolut dan kata pewahyuan yang aksidental (kebetulan). Hal ini banyak sekali mendapat pertentangan dari para kaum ortodoks dalam hal ini As Syariyah dengan menggunakan dalil kontradiktif yaitu jika ada dua tuhan atau lebih dalam alam ini, maka terjadi pertentangan diantara mereka. dan jika pertentangan itu terjadi maka, ada tiga kemungkinan pertama, terlaksana kehendak kedua-duanya, kedua, tidak terjadi kehendak kedua-duanya, dan ketiga, terlaksana kehendak yang satu dan gagal kehendak yang lain. Dari ketiga kemungkinan tersebut yang pertama dan kedua adalah mustahil terjadi, maka yang paling mungkin adalah kemungkinan yang ketiga yaitu terlaksana kehendak yang satu dan gagal kehendak yang lain, yang gagal kehendaknya adalah lemah, sedang yang lemah tidak mungkin tuhan.
Demikian penulis ingin menyampaikan bahwa perlunya teologi islam ditafsirkan dan diartikulasikan dengan pendekatan yang bercorak fungsional sosiologis, sehingga diskursus teologi islam tidak hanya akan mampu melepaskan dirinya dari argumen-argumen yang bersfiat rasioanl spekulatif, tetapi juga akan memiliki implikasi langsung terhadap kehidupan sosial kemanusiaan.


b. Penafsiran hadis kontekstual
Studi kasus abdullah ibnu abbas
Pada bagian ini penulis menyoroti mengenai pemahaman terhadap sosok pribadi dan aktifitas seorang sahabat nabi, yang seharusnya dapat mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi yang ada disekitarnya.
Melihat hal ini ada dua kemungkinan jawaban :
pertama hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat hanya dipahami secara legal dan formalnya saja, tanpa berusaha untuk menggal lebih jauh substansi dari hadis tersebut. Akhirnya hadis tersebut bersifat monolitik, parsial dan tidak kontekstual
kedua sahabat tidak hanya merekam segala sesuatu yang berkaitan dengan nabi saja sebagai sumber hadis, tetapi juga kehadiran, sikap dan perilaku mereka sendiri.
Melihat hal ini penulis menganalisis seorang sahabat yaitu Abdullah bin ibnu abbas untuk menginterpretasikan hadis nabi secara kontekstual sosiologis.
Untuk melakukan ini penulis menggunakan tiga model analisis :
a) aspek sosiokultural
analisis ini digunakan untuk menganalisis sikap dan perilaku kehidupan dan budaya masyarakat dimana abdullah bin abbas ini tinggal
dalam hal ini masyarakat disekitar ibnu abbas didominasi oleh budaya patriarkal atas matriarkal yaitu laki-laki adalah segalanya dan wanita pembawa malapetaka dan nista
b) aspek psikoreligius
aspek ini untuk mengkaji perilaku yang membentuk kesadaran mental keberagamaan dimana abdullah ibnu abbas tinggal, dan kebetulan kesadaran dan sikap mental keluarga yang mengelilingi abdullah bin abbas ini adalah keluarga nabi, maka menjadikan dia memiliki sikap dan keberagaman yang tinggi.


c) aspek metodologis
untuk melihat bagaimana caranya abdullah bin abbas mengumpulkan hadis-hadis yang dia riwayatkan.
Dalam mengumpukan hadis abdullah ibnu abbas menggunakan tiga model yaitu : hafalan, eksperimen dan metode korespondensi
Dari ketiga model analisis tadi diperoleh sebuah kesimpulan bahwa untuk mengkaji seorang sahabat hendaknya menggunakan tiga metode tadi agar hadis nabi mampu menghadapi masalah-masalah kekinian dankedisinian yang lebih komplek dan beragam yang bahkan tidak terjadi pada masa rasulullah.


c. Wanita islam dalam penafsiran kontekstual
Masalah yang ingin dikaji penulis adalah mengenai wanita dalam hal :
1) kejadian wanita
2) poligami
3) warisan
4) presiden wanita
Dari keempat persoalan wanita ini, penafsiran ayat-ayat alquran dan hadis oleh para kelompok tekstual dan para fuqoha menempatkan wanita diposisi yang sangat berbeda dengan laki-laki. Sehingga terkesan sangat disubordinatkan dari kaum laki-laki dan dilecehkan hak dan martabatnya. Sehingga secara sosiologis wanita harus menerima kenyataan-kenyataan deskriminatif bahwa laki-laki serba lebih dari perempuan. Oleh sebab itu dalam memahami keempat masalah wanita tersebut penulis menyampaikan agar memahami teks-teks dalam alquran tidak diartikan secara harfiah saja, melainkan menggunakan pemahaman kontekstual, sehingga nilai dan pesan yang universal seperti keadilan, persamaan hak, penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, dan kebebasan yang terkandung dalam alquran dapat tersampaikan.


d. Menyoal perguruan tinggi
Tiga tipologi berfikir di IAIN
1) menempatkan tuhan sebagai segala sesuatu yang terlepas dari dunia realitas
pemikiran ini menggambarkan tuhan sebagai sesuatu yang jauh dari yang lainya, bersifat metafisik dan an sich bukan bersifat dinamis sosiologis, sehingga terkesan metafisis-eskatologis. Untuk merespon pemikiran ini digunakan pendekatan fungsional sebagaimana dipahami C. Van Persen
dalam alam pikiran fungsional apa yang ada tidak sekedar dipertanyakan, tetapi bagaimana yang ada itu difungsikan. Misalnya sifat allah difungsikan oleh manusia untuk menciptakan sesuatu. Misalnya siaft allah maha pencipta, allah menciptakan sungai kemudian manusia mengfungsikan sifat allah mencipta untuk menjadika sungai tersebut sebagai sarana tenaga pembangkit listrik untuk memberikan kemanfaatan bagi kehidupan
2) memandang ajaran islam sebagai sesuatu yang baku. Islam sebagai agama yang mencakup berbagai aspek diintrepetasikan hanya berdasarkan hukum misalnya halal dan haram sajaaspek psikologis, sosiologis dan antropologis kering dari kajian-kajian keislaman. Yang sering kita dengar adalah pertentangan dan perbedaan mazhab. Sehingga terkesan pemikiran di IAIN kaku, tidak riil dan kontekstual dan cenderung memperuncing masalah.


3) memandang islam secara parsial, a historis dan satu arah atau monolitik.
Islam yang dipelajari bukanlah islam yang masa kini, melainkan islam ada pada abad pertengahan. Akibatnya wacana islam tidak menyentuh persoalan-persoalan kontemporer. Untuk mengantisipasi pemikiran yang demikian, Arkoun mengajak umat islam untuk berfikir deduktif normatif. Hal senada disampaikan oleh fazlur rahman yang menyatakan bahwa yang mematika dan melemahkan semangat keilmuan yang kritis diskurtif dikalangan umat islam adalah karena memisahkan dengan tegas antara ilmu agama di satu pihak dan ilmu sekuler dipihak yang lain. Akibatnya islam sebagai agama alternatif menjadi kering dari kajiana-kajian yang bersifat sekuler.
Oleh sebab itu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di IAIN adalah dengan menghidupkan semangat keilmuan yang kritis diskurtif, melihat ilmu pengetahuan tidak dengan kacamata dikotomik, melainkan secara holistik dan terpadu, ajaran islam tidak hanya dipahami normativnya saja, melainkan juga diinterpretasikan berdasarkan pendekatan barat modern, berupaya mengembangkan kreativitas dan orisinilitas ilmu pengetahuan islam lewat kajian yang bersifat metodologis aplikatif.


e. Komunikasi islam (terapi Dakwah Abad XXI)
Tugas dari seorang dai adalah mengirimkan pesan dakwahnya, sehingga pesan ini dapat tercapai. Oleh sebab itu seorang dai harus memahami situasi dan realitas masyarakatnya. Untuk memahami itu perlu wawasan yang bersifat metodologis dan sosial prodiktif. Satu contoh dakwah pada abad XXI, seorang dai harus memahami situasi dan kondisi masyarakat abad itu.
Marshal mc luhan mengemukakan bakal terjadinya global village, semacam kekuatan tanpa batas akibat kekuatan media komunikasi yang akan menembus segala batas bangsa-bangsa. Alvin Tofler menyatakan bahwa XXI adalah abad perubahan manusia dari gelombang pertama, kedua menuju gelombang peradaban ketiga. Banyak ciri masyarakat abad ke XXI, namun yang terpenting bahwa seorang dai ketika menginkan pesan-pesan dakwahnya tercapai hendaknya mengetahui wawasan metodologi dakwah misalnya sosiologi dakwah, psikologi dakwah, manajemen dakwah, dan dakwah kontekstual dan yang lain.


3. Studi Islam Pendekatan Sejarah
a. Respon umat islam terhadap imperalisme dan kolonialisme
Menurut esposito, ada empat macam reaksi umat islam menghadapi imperalisme dan kolonialisme berwajah ganda terhadap umat islam, yaitu menolak, menarik diri, sekularisme dan westernisasi. Reaksi pertama dan kedua alternatifnya menolak berhubungan dengan orang-orang kolonial itu dan lembaga mereka. bagi pendukung sekularisme dan westernisasi, barat menjadi contoh program sosial plitik bagi mereka. satu hal yang perlu diingat bahwa sekarang barat telah meninggalkan dan melepaskan semua koloninya, namun saat ini hadir negara adidaya yang menjadi imperalisme baru dalam wajah penjajahan budaya dan media.
b. Sejarah ilmu pengetahuan agama
(mengkaji epistemologi ibnu taimiyah)
Dalam hal ini ibnu taimiyah mengkritisi pendapat arsitoteles yang mengenai epistemologi yang bercorak rasionalisme yang dicarikan pembenaran dalam alquran. Mereka mengandalkan indikator kebenaran pengetahuan manusia pada kebenaran-kebenaran aksiomatis, yaitu premis yang dijadikan sebagai prinsip dasar yang diperoleh tanpa melalui pengalaman, melainkan melalui sesuatu yang dianggap inheren dalam kemampuan intelektual manusia.
Ibnu taimiyah membagi obyek pengetahuan ke dalam dua bagian : pertama, pengetahuan tentang segala yang ada, kedua pengetahuan tentang agama. Ilmu tentang agama dibagi menjadi dua yaitu ilmu kalam atau ilmu tauhid, yang kedua ushul fiqh. Untuk mengetahui segala sesuatu yang ada beliau menggunakan metode tajribah (empiri), kemudian untuk memperoleh dan membuktikan ilmu pengetahuan agama beliau menggunakan metode istishab (masalaih, mursalah) kedua mtode ini digunakan untuk menguatkan landasan tauhid dua kalimah syahadat, serta rukun iman lainya. Argumen epistemologi semacam ini yang digunakan untuk membangun prinsip-prinsip ilmu agama. Karena kebenaran merupakan sesustu yang tetap dan tidak berubah-ubah terutama kebenaran tentang Allah dan Rasul Nya.
Pendapat ini sekaligus mengkritik pendapat aristotelian yang meyakini wahyu yang kita jadikan sumber kebenaran sebagai sesuatu yang tidak dapat diakui kebenaranya karena tertolak dengan silogisme aristoteles. Ibnu taimiyah mengemukaan bahwa pengetahuan tidka dibatasi pada penalaran silogistis saja melainkan harus empriris dan faktual.


C. Penutup
Demikian review buku ini penulis sampaikan, mudah-mudahan tidak menyimpang dari buku aslinya, dan memberikan kemudahan bagi para pembaca, dalam memahami buku ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar